Pemandangan

Belajar, Berilmu dan Beramal

Seminar

Belajar, Berilmu dan Beramal

Pelatihan

Belajar, Berilmu dan Beramal

Bersama Para Guru

Belajar, Berilmu dan Beramal

Workshop

Belajar, berilmu dan beramal

Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2011

Perkembangan Anak Menurut Jean Piaget Dan Vigotsky

Pendidikan anak usia dini (PAUD) menurut The National Association for the Education of Young Children (NAEYC) adalah pendidikan bagi anak sejak lahir hingga usia 8 tahun, baik dalam program setengah hari maupun penuh, di rumah atau lembaga pendidikan. Penetapan rentang usia ini didasarkan pada penelitian psikologi perkembangan yang menunjukkan bahwa delapan tahun pertama kehidupan merupakan masa penting dengan pola perkembangan yang relatif dapat diprediksi.

NAEYC juga berperan dalam menjaga mutu program PAUD agar sesuai dengan tahap perkembangan dan keunikan setiap anak. Di Indonesia, pembagian usia anak umumnya meliputi: masa bayi (0–12 bulan), masa balita atau toddler (1–3 tahun), masa prasekolah (3–6 tahun), serta usia taman kanak-kanak (4–6 tahun).

Dalam teori perkembangan kognitif, Jean Piaget menjelaskan bahwa kecerdasan berkembang seperti sistem biologis yang dipengaruhi oleh kematangan, lingkungan, dan proses penyesuaian diri. Setiap anak memiliki kecenderungan untuk beradaptasi dengan lingkungannya melalui dua proses, yaitu asimilasi (mengaitkan pengalaman baru dengan pengetahuan lama) dan akomodasi (mengubah struktur berpikir karena adanya pengalaman baru). Kedua proses ini menjadi dasar terjadinya belajar.

Piaget juga membagi perkembangan kognitif anak ke dalam empat tahap, yaitu: sensori-motor (0–2 tahun), praoperasional (2–7 tahun), operasional konkret (7–11 tahun), dan operasional formal (11–15 tahun). Tahapan ini berlangsung berurutan dan saling berkaitan, meskipun kecepatan setiap anak bisa berbeda. Oleh karena itu, pembelajaran perlu disesuaikan dengan tahap berpikir anak agar lebih efektif.

Berbeda dengan Piaget, Lev Vygotsky menekankan pentingnya peran lingkungan sosial dalam perkembangan kognitif anak. Menurutnya, anak belajar melalui interaksi dengan orang tua, guru, dan teman. Ia memperkenalkan konsep Zona Perkembangan Proksimal (ZPD), yaitu jarak antara kemampuan yang sudah dimiliki anak dengan kemampuan yang dapat dicapai dengan bantuan orang lain.

Dalam konteks ini, diperlukan scaffolding, yaitu bantuan atau bimbingan yang diberikan secara bertahap hingga anak mampu mandiri. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan dukungan saat dibutuhkan, lalu menguranginya seiring meningkatnya kemampuan anak.

Vygotsky juga menegaskan bahwa perkembangan berpikir anak sangat dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan sosialnya. Nilai, norma, dan cara berpikir dalam suatu budaya akan membentuk cara anak memahami dan memecahkan masalah dalam kehidupannya.

Minggu, 06 Februari 2011

Labeling

Oleh : Muhammad Imam Najmudin

Add caption
Bodoh sekali kamu, soal mudah saja nggak bisa mengerjakan, gimana kamu mau jadi dokter ?!..., Aduh ....ini anak malas banget!, Pusing-pusing .... punya anak seperti kamu sudah pemalu, susah diatur, cengeng lagi !, diiqob saja pak anak saya dasar cah angel diatur!, dasar anak bandel!, dasar anak nakal!...atau kamu pintar! Kamu cerdas! Duh ...anak mama pintar sekali.
Ya ...barangkali kita tidak asing lagi dengan kalimat di atas atau mungkin kalimat yang lebih buruk dari itu, di mana kalimat tersebut kadang sadar atau tidak sadar telah diucapkan oleh guru dan orang tua kepada anaknya, kalimat yang setiap anak risih untuk mendengarnya atau merasa sakit hati jika kalimat tersebut ditujukan kepada dirinya, kalimat ini sering disebut dengan kalimat negatif. Sedangkan kalimat yang bersifat memuji tentang kehebatan, kepatuhan atau kecerdasan anak, sering disebut dengan kalimat positif. Semua kalimat negatif dan positif yang selalu kita ucapkan kepada anak bisa disebut labeling.