Pemandangan

Belajar, Berilmu dan Beramal

Seminar

Belajar, Berilmu dan Beramal

Pelatihan

Belajar, Berilmu dan Beramal

Bersama Para Guru

Belajar, Berilmu dan Beramal

Workshop

Belajar, berilmu dan beramal

Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 April 2026

Perkembangan Kognitif Anak Sekolah Dasar Menurut Piaget

Jean Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara sendiri dalam memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam teori perkembangan kognitif, anak memiliki struktur berpikir yang disebut skema (schemata), yaitu kumpulan konsep dalam pikiran yang terbentuk dari pengalaman.
Pemahaman anak berkembang melalui dua proses, yaitu asimilasi (mengaitkan pengalaman baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki) dan akomodasi (menyesuaikan atau mengubah cara berpikir karena adanya pengalaman baru). Kedua proses ini berlangsung terus-menerus hingga tercapai keseimbangan antara pengetahuan lama dan baru. Dengan cara ini, anak secara bertahap membangun pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan.
Oleh karena itu, perilaku belajar anak dipengaruhi oleh dua hal yang tidak terpisahkan, yaitu faktor dari dalam diri anak dan lingkungan sekitarnya. Proses belajar terjadi melalui interaksi antara keduanya.
Anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini, anak mulai:
•    Melihat sesuatu secara lebih objektif dan memahami beberapa aspek sekaligus 
•    Berpikir secara logis terhadap hal-hal yang nyata 
•    Mengelompokkan benda berdasarkan cirinya 
•    Memahami hubungan sebab-akibat sederhana 
•    Mengenal konsep ukuran seperti panjang, luas, volume, dan berat 
Berdasarkan tahap tersebut, cara belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri utama:
1.    Konkret
Anak belajar dari hal-hal yang nyata dan dapat diamati langsung. Lingkungan sekitar menjadi sumber belajar yang penting karena membuat pembelajaran lebih bermakna dan mudah dipahami. 
2.    Integratif
Anak memandang sesuatu sebagai satu kesatuan utuh, belum mampu memisahkan konsep secara rinci dari berbagai bidang ilmu. 
3.    Hierarkis
Anak belajar secara bertahap, dari hal yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Oleh karena itu, materi perlu disusun secara runtut dan saling berkaitan. 
Semoga bermanfaat !

Rabu, 13 Juni 2012

MENCARI SUKSES PENDIDIKAN

Duh susahnya jadi pendidik di zaman ini. Guru mengeluh, orangtua mengeluh, gimana muridnya?”Inilah realita kita sehari-hari. Tempo hari, berita repotnya UAN sudah jadi headline yang menggemaskan. Depdiknas repot, sekolah-sekolah repot, terakhir Detasemen 88 ikut repot. Yang penulis maksudkan sebagai repot di sini, benar-benar repot, kalau tidak bisa dikatakan nyaris bingung dan membingungkan orang lain.

Ada sejumlah orangtua ikut-ikutan stress karena anak mereka stress. “Abis gimana toh Jeng, soal UAN itu ‘kan yang bikin bukan guru sekolahnya, tapi langsung dari Diknas, bisa aja nggak sesuai dengan yang sudah dipelajari anak kita?!”. “Gimana ya, kalau anak saya gak lulus gara-gara salah cara jawab?”. “Aku ngeri deh, ada anak sekolah sini, tahun lalu, gak lulus gara-gara 1 mata pelajaran jeblok, padahal mata pelajaran yang lain dia bagus, di atas rata-rata.” “Gimana kalau nilai UANnya jeblok sampai gak keterima di sekolah negeri?” 

Sebentar lagi UAN akan menjadi headline media lagi. Setelah jeda dengan kehebohan naiknya harga BBM dan kemudian kasus “insiden Monas 1 Juni” yang pekan ini jadi primadona berita. Sukses. Sukses zaman ini artinya: punya pendidikan tinggi, gaji besar, pekerjaan bergengsi. Semua nilai mata nominal (angka). Untuk sampai ke sana, anak sekarang harus berjuang menghadapi stress pendidikan sejak bangku sekolah dasar kelas satu, sampai 18 tahun atau lebih setelah itu, tergantung apakah ia sempat tinggal kelas atau tidak, atau apakah ia mau melanjutkan stressnya ke jenjang yang lebih tinggi atau tidak.Untuk mengejar itu semua, anak-anak kita harus terus menerus ingat pelajaran sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Kadang-kadang terbawa mimpi. Matematika, Geografi, Biologi, Kimia, Bahasa Inggris, dst, dst…itu igauan anak-anak kita setiap menjelang akhir tahun ajaran. Seberapa jauh itu bermanfaat untuk mereka? 

Belum lama ini seseorang mencoba menguji nalar anaknya dengan mengajak membuat maket rumah. Anak yang sudah lulus SMA bersama adiknya yang masih SMA di tanya bagaimana membuat maket atap? Jawaban mereka: “Susah lah, gimana ngitungnya?”. ”Ya tapi gimana rumusnya? Gak bisa lah.” Sebagai upaya terakhir sang ayah memberikan kata kunci ‘Pytagoras’. Barulah kedua anak itu mulai mengerti: “Ooo iya, bisa, kalau pake rumus Pytagoras di bidang bantu”, Komentar si kakak: “Oooh itu tokh gunanya Pytagoras!” 

Tragis. Rumus dihafal bagai mantra tanpa guna, sebaliknya giliran harus mengaplikasikan malah kebingungan. Itu contoh kecil betapa nalar anak-anak kita sudah sangat tertekan oleh beban jutaan soal mati yang harus dihafal di luar kepala sehingga pada saat nalar seharusnya berjalan mengisi proses kreatif ternyata nalarnya sudah “heng”. Jurus ‘shortcut’ pendidikan dengan cara menghafal soal diperkuat lagi dengan fenomena baru ini: Pesantren Bimbel (Bimbingan Belajar). Hebatnya, pesantren kilat yang digelar bimbel-bimbel kelas nasional ini hanya berlangsung beberapa pekan sebagaimana pesantren kilat, namun harganya……ck…ck…ck…..seharga motor baru bukan mocin. Terbilang (menurut harian Republika Ahad 25 Mei) antara 12 juta-an sampai 22 juta-an rupiah. Fantastis! Itu baru Bimbelnya, belum uang masuknya ke perguruan tinggi. 

Seorang dosen kepala jurusan di sebuah perguruan tinggi utama di negeri ini ikut komentar terhadap fenomena ini: “Memang pola pendidikan di sekolah-sekolah kita patut sangat disayangkan. Terbukti kita-kita sebagai dosen mengalami sendiri bagaimana susahnya mengajak mahasiswa kita untuk sampai kepada nalar yang kita inginkan. Masa’ iya sudah kuliah masih terpikir nyontek, sampai ke skripsi, inginnya plagiat!” Begitulah, ketika apa yang cuma asesoris dianggap sebagai tujuan. Ketika gelar yang sebenarnya hanya cap untuk mengenali seberapa tingkat pendidikan seseorang justru dijadikan sebagai tujuan pendidikan. Walhasil kita sebagai bangsa dan ummat tak akan berhasil mencetak manusia berpendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Tapi yang kita cetak hanyalah sejumlah manusia bergelar yang belum tentu punya nalar. 

Di lapangan, berderet-deret antrian sarjana pencari kerja, sementara yang dicari oleh penyedia lapangan kerja adalah manusia-manusia kreatif yang mampu mengangkat performa perusahaan di tengah kemelut susahnya ekonomi. Alasan penolakan perusahaan selalu sama “belum ada pengalaman kerja”. Artinya sarjana yang lulus belum dianggap lulus oleh pihak yang akan memakai jasa mereka. 

Debat seputar ini akan tak ada habisnya jika tak langsung ke akar masalah. Pendidikan seharusnya mengacu kepada kesuksesan anak didik menjadi orang yang berguna. Kata Nabi SAW: “Khoirukum, an fa’ul linnas”. Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat. Kualitas sebagai orang bermanfaat inilah yang seharusnya dijadikan tolok ukur keberhasilan, bukannya sederet angka dan rangking. Bahkan bagi ummat Islam sudah ada konsep “” yaitu pahala. Kebaikan dan manfaat dalam Islam dengan mudah dinilai dari pahala yang dijanjikan Allah SWT. 

Apa keuntungannya jika kita mau memakai tolok ukur manfaat ini? Ada banyak Anak didik akan terdorong untuk menjadi orang yang berguna buat orang lain, yang berarti Insya Allah akan jauh dari sifat egois. Untuk menjadi orang yang bermanfat, seseorang perlu mengeksplorasi dirinya dan mencari apa kelebihan dirinya dan tidak fokus pada kekurangan dirinya. Artinya ia akan punya kepribadian kuat. Seorang yang selalu mengasihani dirinya dan berkepribadian lemah tak sanggup berpikir untuk menjadi berguna bagi orang lain. Untuk menjadi orang bermanfaat, seseorang akan melalui proses inisiatif dan kreatif. Artinya kita akan kebanjiran pribadi-pribadi yang penuh inisiatif dan siap menjadi pemimpin sambil tetap mempunyai semangat kreatifitas karena ingin orisinal. 

Itu juga Insya Allah akan membuat bangsa ini dibanjiri para inventor karena ingin menjadi orang-orang yang banyak pahala jariyahnya dengan menemukan hal-hal baru yang akan mendapat pahala terus menerus selama penemuannya masih digunakan orang di muka bumi. Mungkin masih banyak yang perlu dibicarakan. Insya Allah masih ada umur untuk menyambungnya. Tetapi setidaknya, bukankah memang sudah saatnya kita memikirkan kembali berbagai paradigma yang saat ini dianut oleh dunia pendidikan kita.

Kamis, 22 September 2011

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK KELAS AWAL SD DAN PEMBELAJARAN TEMATIK

Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. 

Selain itu, perkembangan anak dari sisi sosial, terutama anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri. Perkembangan anak usia 6-8 tahun dari sisi emosi antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang konsep nilai misalnya benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu. 

Pembelajaran Tematik

Sesuai dengan tahapan karakteristik perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar dan belajar bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awal SD sebaiknya dilakukan dengan pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar bermakna kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). 
 
Keuntungan Penggunaan Tematik  
Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
  1. Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu
  2. Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama. 
  3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.
  4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik.
  5. Peserta didik mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.
  6. Peserta didik lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain

Perkembangan Anak Menurut Jean Piaget Dan Vigotsky

Pendidikan anak usia dini (PAUD) menurut The National Association for the Education of Young Children (NAEYC) adalah pendidikan bagi anak sejak lahir hingga usia 8 tahun, baik dalam program setengah hari maupun penuh, di rumah atau lembaga pendidikan. Penetapan rentang usia ini didasarkan pada penelitian psikologi perkembangan yang menunjukkan bahwa delapan tahun pertama kehidupan merupakan masa penting dengan pola perkembangan yang relatif dapat diprediksi.

NAEYC juga berperan dalam menjaga mutu program PAUD agar sesuai dengan tahap perkembangan dan keunikan setiap anak. Di Indonesia, pembagian usia anak umumnya meliputi: masa bayi (0–12 bulan), masa balita atau toddler (1–3 tahun), masa prasekolah (3–6 tahun), serta usia taman kanak-kanak (4–6 tahun).

Dalam teori perkembangan kognitif, Jean Piaget menjelaskan bahwa kecerdasan berkembang seperti sistem biologis yang dipengaruhi oleh kematangan, lingkungan, dan proses penyesuaian diri. Setiap anak memiliki kecenderungan untuk beradaptasi dengan lingkungannya melalui dua proses, yaitu asimilasi (mengaitkan pengalaman baru dengan pengetahuan lama) dan akomodasi (mengubah struktur berpikir karena adanya pengalaman baru). Kedua proses ini menjadi dasar terjadinya belajar.

Piaget juga membagi perkembangan kognitif anak ke dalam empat tahap, yaitu: sensori-motor (0–2 tahun), praoperasional (2–7 tahun), operasional konkret (7–11 tahun), dan operasional formal (11–15 tahun). Tahapan ini berlangsung berurutan dan saling berkaitan, meskipun kecepatan setiap anak bisa berbeda. Oleh karena itu, pembelajaran perlu disesuaikan dengan tahap berpikir anak agar lebih efektif.

Berbeda dengan Piaget, Lev Vygotsky menekankan pentingnya peran lingkungan sosial dalam perkembangan kognitif anak. Menurutnya, anak belajar melalui interaksi dengan orang tua, guru, dan teman. Ia memperkenalkan konsep Zona Perkembangan Proksimal (ZPD), yaitu jarak antara kemampuan yang sudah dimiliki anak dengan kemampuan yang dapat dicapai dengan bantuan orang lain.

Dalam konteks ini, diperlukan scaffolding, yaitu bantuan atau bimbingan yang diberikan secara bertahap hingga anak mampu mandiri. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan dukungan saat dibutuhkan, lalu menguranginya seiring meningkatnya kemampuan anak.

Vygotsky juga menegaskan bahwa perkembangan berpikir anak sangat dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan sosialnya. Nilai, norma, dan cara berpikir dalam suatu budaya akan membentuk cara anak memahami dan memecahkan masalah dalam kehidupannya.

Minggu, 06 Februari 2011

Labeling

Oleh : Muhammad Imam Najmudin

Add caption
Bodoh sekali kamu, soal mudah saja nggak bisa mengerjakan, gimana kamu mau jadi dokter ?!..., Aduh ....ini anak malas banget!, Pusing-pusing .... punya anak seperti kamu sudah pemalu, susah diatur, cengeng lagi !, diiqob saja pak anak saya dasar cah angel diatur!, dasar anak bandel!, dasar anak nakal!...atau kamu pintar! Kamu cerdas! Duh ...anak mama pintar sekali.
Ya ...barangkali kita tidak asing lagi dengan kalimat di atas atau mungkin kalimat yang lebih buruk dari itu, di mana kalimat tersebut kadang sadar atau tidak sadar telah diucapkan oleh guru dan orang tua kepada anaknya, kalimat yang setiap anak risih untuk mendengarnya atau merasa sakit hati jika kalimat tersebut ditujukan kepada dirinya, kalimat ini sering disebut dengan kalimat negatif. Sedangkan kalimat yang bersifat memuji tentang kehebatan, kepatuhan atau kecerdasan anak, sering disebut dengan kalimat positif. Semua kalimat negatif dan positif yang selalu kita ucapkan kepada anak bisa disebut labeling.