This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 03 April 2026

Dari “Anak Terbodoh” Menjadi Jenius: Kekuatan Target dan Keyakinan Diri


Di Singapura, ada seorang tokoh bernama Adam Khoo yang kisah hidupnya menunjukkan bahwa perubahan besar bisa terjadi pada siapa saja. Pada usia 26 tahun, ia telah memiliki empat bisnis dengan total omzet mencapai 20 juta dolar Singapura (sekitar 140 miliar rupiah). Namun, siapa sangka bahwa masa kecilnya justru jauh dari kata gemilang.

Ketika berusia 12 tahun, Adam dikenal sebagai anak yang malas, kurang cerdas, bahkan dianggap tidak memiliki masa depan. Ia sangat gemar bermain game dan menonton televisi, sehingga semua nilai pelajarannya berada di tingkat terendah (F). Hal ini membuatnya semakin membenci guru, belajar, dan sekolah. Ia bahkan pernah dikeluarkan dari sekolah dan harus berpindah-pindah. Saat SMP, ia ditolak oleh enam sekolah karena dianggap sebagai siswa terburuk, hingga akhirnya diterima di sekolah dengan kualitas paling rendah.

Keadaannya semakin memprihatinkan. Dari 160 siswa, Adam berada di peringkat ke-10 dari bawah. Orang tuanya pun panik dan berusaha memberikan les tambahan. Namun, hasilnya tetap mengecewakan. Nilainya hanya berkisar 40 dari skala 0–100. Bahkan, ia tidak mampu mengerjakan soal matematika tingkat sekolah dasar.

Titik balik terjadi saat liburan sekolah, ketika orang tuanya mengikutkannya dalam program Super Teen Program yang dibimbing oleh Ernest Wong. Program ini menggunakan metode Accelerated Learning, NLP (Neuro-Linguistic Programming), dan Whole Brain Learning. Dari sinilah perubahan besar dimulai.

Adam mulai mengubah keyakinannya. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Jika orang lain bisa mendapatkan nilai A, mengapa saya tidak?” Untuk pertama kalinya, ia berani menetapkan target: mendapatkan nilai sempurna di semua mata pelajaran. Ia juga menetapkan tujuan jangka pendek untuk masuk ke Victoria Junior College (SMA terbaik di Singapura), dan tujuan jangka panjang untuk diterima di National University of Singapore (NUS) serta menjadi mahasiswa terbaik.

Ketika kembali ke sekolah, ia dengan percaya diri menyampaikan cita-citanya. Teman-temannya menertawakan, bahkan gurunya meragukan. Namun, ejekan itu justru menjadi bahan bakar semangatnya.

Hasilnya luar biasa. Dalam tiga bulan, nilai rata-ratanya naik menjadi 70. Dalam satu tahun, ia melesat dari peringkat terbawah ke peringkat 18. Saat kelulusan, ia berhasil meraih peringkat pertama dengan nilai A di semua mata pelajaran. Ia pun diterima di Victoria Junior College, lalu melanjutkan ke NUS. Di sana, ia terus berprestasi hingga masuk dalam Talent Development Program, yang hanya diperuntukkan bagi 1% mahasiswa terbaik.

Kisah Adam Khoo menunjukkan bahwa label “bodoh” bukanlah takdir. Perubahan besar dimulai dari keberanian menetapkan target dan keyakinan kuat untuk mencapainya. Dari seorang anak yang dianggap tidak berguna, ia menjelma menjadi pribadi yang cerdas dan sukses.

Pelajaran terpentingnya adalah: siapa pun bisa berubah, selama ia berani bermimpi, menetapkan tujuan, dan yakin kepada Allah 

Rabu, 09 November 2022

PROFIL


Muhammad Imam Najmudin pria yang lahir di sebuah desa kecil yang bernama Karangsari bulakamba kabupaten Brebes Jawa Tengah, dari pasangan Sodikin dan Umayah, Lahir di Brebes, 10 Agustus 1979.  Pendidikannya dilaluinya dari mulai TK Pertiwi desa Karangsari, SD Negeri 1 Karangsari, SMP Negeri 1 Bulakamba Brebes, SMU Negeri 1 Bulakamba Brebes, DIII Fakultas Biologi UNSOED Purwokwerto, DII Studi Islam& Bahasa Arab Ma’had Abu Bakar Ash Sidiq UMS Surakarta, S1 Pendidikan Agama Islam Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Surakarta, S2 Magister Sians Psikologi, Jurusan Psikologi Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penulis sekarang bekerja sebagai staf bagian Pendidikan di Sebuah Yayasan Islam yang ada di Surakarta. Pernah menjabat kepala Sekolah di sebuah sekolah swasta di daerah Banjarsari Surakarta yaitu Madrasah Ibtidaiyah Terpadu Tahfizhul Qur’an Al Ma’shum atau lebih dikenal dengan MITTQUM, sebelum itu menjadi guru di SD Islam Sunan Kalijaga Surakarta. Karir menjadi guru dimulai dengan menjadi tenaga Administrasi selama satu tahun kemudian diangkat menjadi guru. Pernah menjadi staf pengajar di Pesma Al Austh Surakarta selama 1 tahun, pernah juga menjadi Kepala Sekolah di Pondok Pesantren Khoiru Ummah Bentar Salem Brebes.

Beberapa pekerjaan yang berkaitan dengan tulis menulis adalah menjadi salah satu editor LKS untuk penerbit di Surakarta dan menjadi penulis LKS untuk mata pelajaran fikih kelas V dan kelas VI. Aktif mengisi beberapa pengajian di masjid kampung sebagai salah satu wahana untuk berinteraksi dengan masyarakat serta menjadi pembicara dalam Workshop dan Pelatihan yang diadakan oleh Pondok Pesantren atau Sekolah Islam

Suami dari Yuningsih dan Ayah dari Haura Muttaqiya (13th) dan Haifah Rufaida (10th) yang bercita-cita ingin memiliki lembaga pendidikan yang bermutu dan Islami ini berusaha untuk mengasah ketrampilan dan kemampuan dengan mengikuti beberapa pelatihan, diklat,workshop dan TOT diantaranya: Pelatihan MBS Awal Bagi Kepala Sekolah,guru dan Komite, Pelatihan Pakem Bagi Guru, Pendidikan dan Pelatihan wawasan Manajerial Kepala MI di Lingkungan Kementrian Agama Propinsi Jawa Tengah, Pendidikan dan Pelatihan Diklat Teknis Substantif Peningkatan Kompetensi Penyusunan dan Pemanfaatan Multimedia Pembelajaran Bagi Guru MI,  Workshop Manajemen Kepala MI, Super Public Speaking, Power Point Magic Presentation, Dynam Public Speaking, TOT tingkat dasar Menejemen Lembaga Berkarakter & Sistemik, TOT Lanjutan Menegemen Lembaga Berkarakter dan sistemik.

Rabu, 06 September 2017

KENANGAN 2017 DI MITTQUM




MABRUR MITTQUM merupakan kegiatan pembinaan spiritual dan penguatan karakter yang diselenggarakan oleh Madrasah Ibtidaiyah Terpadu Tahfizhul Qur’an Al Ma’shum. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana untuk menumbuhkan kebiasaan ibadah, mempererat kebersamaan, serta meningkatkan kualitas hubungan antara anak, orang tua, dan lingkungan pendidikan.

Acara ini diawali dengan sesi parenting, yang memberikan bekal kepada para orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak, khususnya dalam pembinaan akhlak, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Selanjutnya, peserta bersama-sama melaksanakan pembacaan Surah Al-Kahfi, sebagai bentuk penguatan spiritual dan refleksi nilai-nilai keimanan.

Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan shalat tahajud berjamaah, yang menjadi momentum mendekatkan diri kepada Allah dalam suasana yang khusyuk dan penuh kehangatan. Kemudian, peserta melaksanakan shalat Subuh berjamaah, dilanjutkan dengan dzikir pagi, sebagai upaya menanamkan kebiasaan ibadah harian sejak dini.

Kebersamaan juga diperkuat melalui kegiatan makan bersama, yang menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersahajaan. Selain itu, peserta mengikuti kegiatan olahraga, guna menjaga kesehatan jasmani sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan dan keceriaan.

Melalui rangkaian kegiatan ini, MABRUR MITTQUM diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, berakhlak mulia, serta memiliki kedekatan yang erat dengan Al-Qur’an dan nilai-nilai keislaman.

Rabu, 13 Juni 2012

MENCARI SUKSES PENDIDIKAN

Duh susahnya jadi pendidik di zaman ini. Guru mengeluh, orangtua mengeluh, gimana muridnya?”Inilah realita kita sehari-hari. Tempo hari, berita repotnya UAN sudah jadi headline yang menggemaskan. Depdiknas repot, sekolah-sekolah repot, terakhir Detasemen 88 ikut repot. Yang penulis maksudkan sebagai repot di sini, benar-benar repot, kalau tidak bisa dikatakan nyaris bingung dan membingungkan orang lain.

Ada sejumlah orangtua ikut-ikutan stress karena anak mereka stress. “Abis gimana toh Jeng, soal UAN itu ‘kan yang bikin bukan guru sekolahnya, tapi langsung dari Diknas, bisa aja nggak sesuai dengan yang sudah dipelajari anak kita?!”. “Gimana ya, kalau anak saya gak lulus gara-gara salah cara jawab?”. “Aku ngeri deh, ada anak sekolah sini, tahun lalu, gak lulus gara-gara 1 mata pelajaran jeblok, padahal mata pelajaran yang lain dia bagus, di atas rata-rata.” “Gimana kalau nilai UANnya jeblok sampai gak keterima di sekolah negeri?” 

Sebentar lagi UAN akan menjadi headline media lagi. Setelah jeda dengan kehebohan naiknya harga BBM dan kemudian kasus “insiden Monas 1 Juni” yang pekan ini jadi primadona berita. Sukses. Sukses zaman ini artinya: punya pendidikan tinggi, gaji besar, pekerjaan bergengsi. Semua nilai mata nominal (angka). Untuk sampai ke sana, anak sekarang harus berjuang menghadapi stress pendidikan sejak bangku sekolah dasar kelas satu, sampai 18 tahun atau lebih setelah itu, tergantung apakah ia sempat tinggal kelas atau tidak, atau apakah ia mau melanjutkan stressnya ke jenjang yang lebih tinggi atau tidak.Untuk mengejar itu semua, anak-anak kita harus terus menerus ingat pelajaran sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Kadang-kadang terbawa mimpi. Matematika, Geografi, Biologi, Kimia, Bahasa Inggris, dst, dst…itu igauan anak-anak kita setiap menjelang akhir tahun ajaran. Seberapa jauh itu bermanfaat untuk mereka? 

Belum lama ini seseorang mencoba menguji nalar anaknya dengan mengajak membuat maket rumah. Anak yang sudah lulus SMA bersama adiknya yang masih SMA di tanya bagaimana membuat maket atap? Jawaban mereka: “Susah lah, gimana ngitungnya?”. ”Ya tapi gimana rumusnya? Gak bisa lah.” Sebagai upaya terakhir sang ayah memberikan kata kunci ‘Pytagoras’. Barulah kedua anak itu mulai mengerti: “Ooo iya, bisa, kalau pake rumus Pytagoras di bidang bantu”, Komentar si kakak: “Oooh itu tokh gunanya Pytagoras!” 

Tragis. Rumus dihafal bagai mantra tanpa guna, sebaliknya giliran harus mengaplikasikan malah kebingungan. Itu contoh kecil betapa nalar anak-anak kita sudah sangat tertekan oleh beban jutaan soal mati yang harus dihafal di luar kepala sehingga pada saat nalar seharusnya berjalan mengisi proses kreatif ternyata nalarnya sudah “heng”. Jurus ‘shortcut’ pendidikan dengan cara menghafal soal diperkuat lagi dengan fenomena baru ini: Pesantren Bimbel (Bimbingan Belajar). Hebatnya, pesantren kilat yang digelar bimbel-bimbel kelas nasional ini hanya berlangsung beberapa pekan sebagaimana pesantren kilat, namun harganya……ck…ck…ck…..seharga motor baru bukan mocin. Terbilang (menurut harian Republika Ahad 25 Mei) antara 12 juta-an sampai 22 juta-an rupiah. Fantastis! Itu baru Bimbelnya, belum uang masuknya ke perguruan tinggi. 

Seorang dosen kepala jurusan di sebuah perguruan tinggi utama di negeri ini ikut komentar terhadap fenomena ini: “Memang pola pendidikan di sekolah-sekolah kita patut sangat disayangkan. Terbukti kita-kita sebagai dosen mengalami sendiri bagaimana susahnya mengajak mahasiswa kita untuk sampai kepada nalar yang kita inginkan. Masa’ iya sudah kuliah masih terpikir nyontek, sampai ke skripsi, inginnya plagiat!” Begitulah, ketika apa yang cuma asesoris dianggap sebagai tujuan. Ketika gelar yang sebenarnya hanya cap untuk mengenali seberapa tingkat pendidikan seseorang justru dijadikan sebagai tujuan pendidikan. Walhasil kita sebagai bangsa dan ummat tak akan berhasil mencetak manusia berpendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Tapi yang kita cetak hanyalah sejumlah manusia bergelar yang belum tentu punya nalar. 

Di lapangan, berderet-deret antrian sarjana pencari kerja, sementara yang dicari oleh penyedia lapangan kerja adalah manusia-manusia kreatif yang mampu mengangkat performa perusahaan di tengah kemelut susahnya ekonomi. Alasan penolakan perusahaan selalu sama “belum ada pengalaman kerja”. Artinya sarjana yang lulus belum dianggap lulus oleh pihak yang akan memakai jasa mereka. 

Debat seputar ini akan tak ada habisnya jika tak langsung ke akar masalah. Pendidikan seharusnya mengacu kepada kesuksesan anak didik menjadi orang yang berguna. Kata Nabi SAW: “Khoirukum, an fa’ul linnas”. Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat. Kualitas sebagai orang bermanfaat inilah yang seharusnya dijadikan tolok ukur keberhasilan, bukannya sederet angka dan rangking. Bahkan bagi ummat Islam sudah ada konsep “” yaitu pahala. Kebaikan dan manfaat dalam Islam dengan mudah dinilai dari pahala yang dijanjikan Allah SWT. 

Apa keuntungannya jika kita mau memakai tolok ukur manfaat ini? Ada banyak Anak didik akan terdorong untuk menjadi orang yang berguna buat orang lain, yang berarti Insya Allah akan jauh dari sifat egois. Untuk menjadi orang yang bermanfat, seseorang perlu mengeksplorasi dirinya dan mencari apa kelebihan dirinya dan tidak fokus pada kekurangan dirinya. Artinya ia akan punya kepribadian kuat. Seorang yang selalu mengasihani dirinya dan berkepribadian lemah tak sanggup berpikir untuk menjadi berguna bagi orang lain. Untuk menjadi orang bermanfaat, seseorang akan melalui proses inisiatif dan kreatif. Artinya kita akan kebanjiran pribadi-pribadi yang penuh inisiatif dan siap menjadi pemimpin sambil tetap mempunyai semangat kreatifitas karena ingin orisinal. 

Itu juga Insya Allah akan membuat bangsa ini dibanjiri para inventor karena ingin menjadi orang-orang yang banyak pahala jariyahnya dengan menemukan hal-hal baru yang akan mendapat pahala terus menerus selama penemuannya masih digunakan orang di muka bumi. Mungkin masih banyak yang perlu dibicarakan. Insya Allah masih ada umur untuk menyambungnya. Tetapi setidaknya, bukankah memang sudah saatnya kita memikirkan kembali berbagai paradigma yang saat ini dianut oleh dunia pendidikan kita.

Kamis, 22 September 2011

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK KELAS AWAL SD DAN PEMBELAJARAN TEMATIK

Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. 

Selain itu, perkembangan anak dari sisi sosial, terutama anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri. Perkembangan anak usia 6-8 tahun dari sisi emosi antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang konsep nilai misalnya benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu. 

Pembelajaran Tematik

Sesuai dengan tahapan karakteristik perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar, konsep belajar dan belajar bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awal SD sebaiknya dilakukan dengan pembelajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman belajar bermakna kepada peserta didik. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). 
 
Keuntungan Penggunaan Tematik  
Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
  1. Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu
  2. Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama. 
  3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.
  4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik.
  5. Peserta didik mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.
  6. Peserta didik lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain

Perkembangan Anak Menurut Jean Piaget Dan Vigotsky

Perkembangan Anak Menurut Jean Piaget dan Vigotsky
The National for the Educational of Young Children (NAEYC) mendefinisikan pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang melayani anak usia lahir hingga 8 tahun untuk kegiatan setengah hari maupun penuh baik di rumah ataupun institusi luar. Asosiasi para pendidik yang berpusat diAmerika tersebut mendefinisikan rentang usia berdasarkan perkembangan hasil penelitian di bidang psikologi perkembangan anak yang mengindikasikan bahwa terdapat pola umum yang dapat diprediksi menyangkut perkembangan yang terjadi selama 8 tahun pertama kehidupan anak. NAEYC juga berperan sebagai lembaga yang memberikan panduan dalam menjaga mutu program pendidikan anak usia dini yang berkualitas yaitu program yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan keunikan individu.Pembagian rentang usia berdasarkan keunikan dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangannya di Indonesia, tercantum dalam buku kurikulum dan hasil belajar anak usia dini yang terbagi ke dalam rentang tahapan berikut:
  • Masa bayi berusia lahir – 12 bula
  • Masa “toddler” atau balita usia 1-3 tahun  
  • Masa prasekolah usia 3-6 tahun M
  • asa kelas B TK usia 4-5/6 tahun
Teori perkembangan Piaget dengan konsep kecerdasan seperti halnya sistem biologi membangun struktur untuk berfungsi, pertumbuhan kecerdasan ini dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial, kematangan dan ekuilibrasi.

Ciri Kecenderungan Belajar Dan Cara Belajar Anak SD dan MI

Jean Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan proses akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya.