Muhammad Imam Najmudin
Tanggal 23 Maret 2026 yang lalu menjadi hari yang sangat dinanti-nanti oleh rekan-rekan alumni SMPN Bulakamba Brebes angkatan 1995. Sebagai bagian di dalamnya, saya merasakan betul betapa berartinya momen ini. Walaupun kehadiran mungkin tidak mencapai 50%, setelah 30 tahun lamanya tidak bertemu, kerinduan itu tetap terasa kuat terutama bagi mereka yang selama ini merantau di luar kota.
Bertemu kembali dengan teman SMP menghadirkan perasaan yang unik. Secara fisik, cara berpikir, dan latar belakang kehidupan, kita semua tentu telah banyak berubah dibandingkan tiga dekade lalu. Reuni bisa menjadi sumber energi baru, tetapi di sisi lain juga dapat memunculkan rasa canggung, bahkan menurunkan kepercayaan diri bagi sebagian orang.
Perbedaan pencapaian ekonomi kerap membuat seseorang merasa kurang percaya diri atau enggan hadir. Padahal, reuni sejatinya adalah ruang untuk saling menguatkan. Di sinilah kita berbagi pengalaman, bertukar cerita, dan membuka peluang untuk saling membantu atau dalam bahasa sederhana kita dulu, saling menjaga “urusan dapur” masing-masing.
Namun demikian, ada sisi lain yang perlu disikapi dengan bijak. Reuni juga bisa menghidupkan kembali kenangan lama, termasuk kisah-kisah yang pernah terjalin. Fenomena “CLBK” (cinta lama bersemi kembali) sering menjadi cerita yang beredar. Bahkan, ada kisah nyata tentang rumah tangga yang terguncang setelah pertemuan kembali dengan mantan semasa sekolah. Ini menjadi pengingat bahwa kedewasaan dan komitmen tetap harus dijaga dalam setiap kebersamaan.
Di sisi positifnya, ketika anak-anak kita mulai memasuki fase dewasa, reuni justru dapat menjadi jembatan kebaikan: membuka peluang saling besanan, bertukar informasi tentang sekolah, pekerjaan, hingga peluang beasiswa. Lingkaran pertemanan lama, jika dikelola dengan niat baik, bisa menjadi jaringan sosial yang saling menguatkan lintas generasi.
Pada akhirnya, reuni bukan sekadar pertemuan nostalgia, melainkan cermin perjalanan hidup. Ia menguji sejauh mana kita mampu merawat persaudaraan tanpa terjebak dalam perbandingan, menjaga kenangan tanpa mengorbankan masa depan, serta memperluas silaturahmi tanpa melupakan batas-batas yang seharusnya dijaga. Dari sanalah, reuni menemukan maknanya: bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi meneguhkan arah hidup ke depan. (MIN)
.












