This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 09 November 2022

PROFIL


Muhammad Imam Najmudin pria yang lahir di sebuah desa kecil yang bernama Karangsari bulakamba kabupaten Brebes Jawa Tengah, dari pasangan Sodikin dan Umayah, Lahir di Brebes, 10 Agustus 1979.  Pendidikannya dilaluinya dari mulai TK Pertiwi desa Karangsari, SD Negeri 1 Karangsari, SMP Negeri 1 Bulakamba Brebes, SMU Negeri 1 Bulakamba Brebes, DIII Fakultas Biologi UNSOED Purwokwerto, DII Studi Islam& Bahasa Arab Ma’had Abu Bakar Ash Sidiq UMS Surakarta, S1 Pendidikan Agama Islam Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Surakarta, S2 Magister Sians Psikologi, Jurusan Psikologi Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penulis sekarang bekerja sebagai staf bagian Pendidikan di Sebuah Yayasan Islam yang ada di Surakarta. Pernah menjabat kepala Sekolah di sebuah sekolah swasta di daerah Banjarsari Surakarta yaitu Madrasah Ibtidaiyah Terpadu Tahfizhul Qur’an Al Ma’shum atau lebih dikenal dengan MITTQUM, sebelum itu menjadi guru di SD Islam Sunan Kalijaga Surakarta. Karir menjadi guru dimulai dengan menjadi tenaga Administrasi selama satu tahun kemudian diangkat menjadi guru. Pernah menjadi staf pengajar di Pesma Al Austh Surakarta selama 1 tahun, pernah juga menjadi Kepala Sekolah di Pondok Pesantren Khoiru Ummah Bentar Salem Brebes.

Beberapa pekerjaan yang berkaitan dengan tulis menulis adalah menjadi salah satu editor LKS untuk penerbit di Surakarta dan menjadi penulis LKS untuk mata pelajaran fikih kelas V dan kelas VI. Aktif mengisi beberapa pengajian di masjid kampung sebagai salah satu wahana untuk berinteraksi dengan masyarakat serta menjadi pembicara dalam Workshop dan Pelatihan yang diadakan oleh Pondok Pesantren atau Sekolah Islam

Suami dari Yuningsih dan Ayah dari Haura Muttaqiya (13th) dan Haifah Rufaida (10th) yang bercita-cita ingin memiliki lembaga pendidikan yang bermutu dan Islami ini berusaha untuk mengasah ketrampilan dan kemampuan dengan mengikuti beberapa pelatihan, diklat,workshop dan TOT diantaranya: Pelatihan MBS Awal Bagi Kepala Sekolah,guru dan Komite, Pelatihan Pakem Bagi Guru, Pendidikan dan Pelatihan wawasan Manajerial Kepala MI di Lingkungan Kementrian Agama Propinsi Jawa Tengah, Pendidikan dan Pelatihan Diklat Teknis Substantif Peningkatan Kompetensi Penyusunan dan Pemanfaatan Multimedia Pembelajaran Bagi Guru MI,  Workshop Manajemen Kepala MI, Super Public Speaking, Power Point Magic Presentation, Dynam Public Speaking, TOT tingkat dasar Menejemen Lembaga Berkarakter & Sistemik, TOT Lanjutan Menegemen Lembaga Berkarakter dan sistemik.

Rabu, 06 September 2017

 ACARA MABRUR DI MITTQUM

Rabu, 13 Juni 2012

MENCARI SUKSES PENDIDIKAN 1



Duh susahnya jadi pendidik di zaman ini. Guru mengeluh, orangtua mengeluh, gimana muridnya?”
Inilah realita kita sehari-hari. Tempo hari, berita repotnya UAN sudah jadi headline yang menggemaskan. Depdiknas repot, sekolah-sekolah repot, terakhir Detasemen 88 ikut repot. Yang penulis maksudkan sebagai repot di sini, benar-benar repot, kalau tidak bisa dikatakan nyaris bingung dan membingungkan orang lain.
Ada sejumlah orangtua ikut-ikutan stress karena anak mereka stress. “Abis gimana tokh Jeng, soal UAN itu ‘kan yang bikin bukan guru sekolahnya, tapi langsung dari Diknas, bisa aja nggak sesuai dengan yang sudah dipelajari anak kita?!”. “Gimana ya, kalau anak saya gak lulus gara-gara salah cara jawab?”. “Aku ngeri deh, ada anak sekolah sini, tahun lalu, gak lulus gara-gara 1 mata pelajaran jeblok, padahal mata pelajaran yang lain dia bagus, di atas rata-rata.” “Gimana kalau nilai UANnya jeblok sampai gak keterima di sekolah negeri?”
Sebentar lagi UAN akan menjadi headline media lagi. Setelah jeda dengan kehebohan naiknya harga BBM dan kemudian kasus “insiden Monas 1 Juni” yang pekan ini jadi primadona berita.
Sukses. Sukses zaman ini artinya: punya pendidikan tinggi, gaji besar, pekerjaan bergengsi. Semua nilai mata nominal (angka). Untuk sampai ke sana, anak sekarang harus berjuang menghadapi stress pendidikan sejak bangku sekolah dasar kelas satu, sampai 18 tahun atau lebih setelah itu, tergantung apakah ia sempat tinggal kelas atau tidak, atau apakah ia mau melanjutkan stressnya ke jenjang yang lebih tinggi atau tidak.
Untuk mengejar itu semua, anak-anak kita harus terus menerus ingat pelajaran sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Kadang-kadang terbawa mimpi. Matematika, Geografi, Biologi, Kimia, Bahasa Inggris, dst, dst…itu igauan anak-anak kita setiap menjelang akhir tahun ajaran. Seberapa jauh itu bermanfaat untuk mereka?
Belum lama ini seseorang mencoba menguji nalar anaknya dengan mengajak membuat maket rumah. Anak yang sudah lulus SMA bersama adiknya yang masih SMA di tanya bagaimana membuat maket atap? Jawaban mereka: “Susah lah, gimana ngitungnya?”. ”Ya tapi gimana rumusnya? Gak bisa lah.” Sebagai upaya terakhir sang ayah memberikan kata kunci ‘Pytagoras’. Barulah kedua anak itu mulai mengerti: “Ooo iya, bisa, kalau pake rumus Pytagoras di bidang bantu”, Komentar si kakak: “Oooh itu tokh gunanya Pytagoras!”
Tragis. Rumus dihafal bagai mantra tanpa guna, sebaliknya giliran harus mengaplikasikan malah kebingungan.
Itu contoh kecil betapa nalar anak-anak kita sudah sangat tertekan oleh beban jutaan soal mati yang harus dihafal di luar kepala sehingga pada saat nalar seharusnya berjalan mengisi proses kreatif ternyata nalarnya sudah “heng”.
Jurus ‘shortcut’ pendidikan dengan cara menghafal soal diperkuat lagi dengan fenomena baru ini: Pesantren Bimbel (Bimbingan Belajar). Hebatnya, pesantren kilat yang digelar bimbel-bimbel kelas nasional ini hanya berlangsung beberapa pekan sebagaimana pesantren kilat, namun harganya……ck…ck…ck…..seharga motor baru bukan mocin. Terbilang (menurut harian Republika Ahad 25 Mei) antara 12 juta-an sampai 22 juta-an rupiah. Fantastis! Itu baru Bimbelnya, belum uang masuknya ke perguruan tinggi.
Seorang dosen kepala jurusan di sebuah perguruan tinggi utama di negeri ini ikut komentar terhadap fenomena ini: “Memang pola pendidikan di sekolah-sekolah kita patut sangat disayangkan. Terbukti kita-kita sebagai dosen mengalami sendiri bagaimana susahnya mengajak mahasiswa kita untuk sampai kepada nalar yang kita inginkan. Masa’ iya sudah kuliah masih terpikir nyontek, sampai ke skripsi, inginnya plagiat!”
Begitulah, ketika apa yang cuma asesoris dianggap sebagai tujuan. Ketika gelar yang sebenarnya hanya cap untuk mengenali seberapa tingkat pendidikan seseorang justru dijadikan sebagai tujuan pendidikan. Walhasil kita sebagai bangsa dan ummat tak akan berhasil mencetak manusia berpendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Tapi yang kita cetak hanyalah sejumlah manusia bergelar yang belum tentu punya nalar.
Di lapangan, berderet-deret antrian sarjana pencari kerja, sementara yang dicari oleh penyedia lapangan kerja adalah manusia-manusia kreatif yang mampu mengangkat performa perusahaan di tengah kemelut susahnya ekonomi. Alasan penolakan perusahaan selalu sama “belum ada pengalaman kerja”. Artinya sarjana yang lulus belum dianggap lulus oleh pihak yang akan memakai jasa mereka.
Debat seputar ini akan tak ada habisnya jika tak langsung ke akar masalah.
Pendidikan seharusnya mengacu kepada kesuksesan anak didik menjadi orang yang berguna.
Kata Nabi SAW: “Khoirukum, an fa’ul linnas”. Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat. Kualitas sebagai orang bermanfaat inilah yang seharusnya dijadikan tolok ukur keberhasilan, bukannya sederet angka dan rangking. Bahkan bagi ummat Islam sudah ada konsep “” yaitu pahala. Kebaikan dan manfaat dalam Islam dengan mudah dinilai dari pahala yang dijanjikan Allah SWT.
Apa keuntungannya jika kita mau memakai tolok ukur manfaat ini? Ada banyak.
  1. Anak didik akan terdorong untuk menjadi orang yang berguna buat orang lain, yang berarti Insya Allah akan jauh dari sifat egois.
  2. Untuk menjadi orang yang bermanfat, seseorang perlu mengeksplorasi dirinya dan mencari apa kelebihan dirinya dan tidak fokus pada kekurangan dirinya. Artinya ia akan punya kepribadian kuat. Seorang yang selalu mengasihani dirinya dan berkepribadian lemah tak sanggup berpikir untuk menjadi berguna bagi orang lain.
  3. Untuk menjadi orang bermanfaat, seseorang akan melalui proses inisiatif dan kreatif. Artinya kita akan kebanjiran pribadi-pribadi yang penuh inisiatif dan siap menjadi pemimpin sambil tetap mempunyai semangat kreatifitas karena ingin orisinal.
  4. Itu juga Insya Allah akan membuat bangsa ini dibanjiri para inventor karena ingin menjadi orang-orang yang banyak pahala jariyahnya dengan menemukan hal-hal baru yang akan mendapat pahala terus menerus selama penemuannya masih digunakan orang di muka bumi.
Mungkin masih banyak yang perlu dibicarakan. Insya Allah masih ada umur untuk menyambungnya. Tetapi setidaknya, bukankah memang sudah saatnya kita memikirkan kembali berbagai paradigma yang saat ini dianut oleh dunia pendidikan kita. (SAN)

Kamis, 22 September 2011

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK KELAS AWAL SD DAN PEMBELAJARAN TEMATIK

Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting.

Perkembangan Anak Menurut Jean Piaget Dan Vigotsky

Perkembangan Anak Menurut Jean Piaget dan Vigotsky
The National for the Educational of Young Children (NAEYC) mendefinisikan pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang melayani anak usia lahir hingga 8 tahun untuk kegiatan setengah hari maupun penuh baik di rumah ataupun institusi luar. Asosiasi para pendidik yang berpusat diAmerika tersebut mendefinisikan rentang usia berdasarkan perkembangan hasil penelitian di bidang psikologi perkembangan anak yang mengindikasikan bahwa terdapat pola umum yang dapat diprediksi menyangkut perkembangan yang terjadi selama 8 tahun pertama kehidupan anak. NAEYC juga berperan sebagai lembaga yang memberikan panduan dalam menjaga mutu program pendidikan anak usia dini yang berkualitas yaitu program yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan keunikan individu.Pembagian rentang usia berdasarkan keunikan dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangannya di Indonesia, tercantum dalam buku kurikulum dan hasil belajar anak usia dini yang terbagi ke dalam rentang tahapan berikut:
  • Masa bayi berusia lahir – 12 bula
  • Masa “toddler” atau balita usia 1-3 tahun  
  • Masa prasekolah usia 3-6 tahun M
  • asa kelas B TK usia 4-5/6 tahun
Teori perkembangan Piaget dengan konsep kecerdasan seperti halnya sistem biologi membangun struktur untuk berfungsi, pertumbuhan kecerdasan ini dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial, kematangan dan ekuilibrasi.

Ciri Kecenderungan Belajar Dan Cara Belajar Anak SD dan MI

Jean Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan proses akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya.

Minggu, 24 Juli 2011

Resep Menjadi Orang Tua Efektif

Menjadi orangtua yang ideal memang tak ada rumusnya. Namun untuk menjadi orangtua efektif, Anda bisa mempertimbangkan 10 resep berikut ini.
"Pertama, kenali anak Anda. apakah dia pemalu atau periang. Kemudian perlakukan anak Anda sesuai dengan karakternya, jangan paksa anak untuk menjadi karakter lainnya," kata psikolog Frieda Mangunsong dalam jumpa pers '10 Cara Menjadi Orangtua Efektif' di Hotel Gran Melia, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.
Kedua, jangan cuek saat anak berlaku manis dan baik. Beri pujian terhadap semua hal yang dia lakukan. "Hal-hal kecil saja. Jika dia melakukannya dengan baik, jangan tunda lagi, langsung berikan pujian," kata Frieda.
Ketiga, anak harus dilibatkan dalam kegiatan dan keputusan keluarga. Tentu saja orangtua harus menyesuaikan porsinya dengan usia anak. Misalnya, membahas soal liburan bersama dan memberi anak tugas rumah tangga yang bersifat ringan. "Misalnya melipat serbet," imbuh Frieda.

Keempat, manfaatkan kesempatan untuk mendekatkan diri dengan anak. Bahkan saat Anda berada di tengah kemacetan, manfaatkan waktu itu sebaik-baiknya untuk menelepon anak. Jika ada waktu menonton televisi bersama, gunakan untuk menanamkan nilai pada anak.


"Kelima, sediakan waktu khusus untuk berdua saja dengan anak. Misalnya dengan mengantar atau menjemput dari sekolah," ujarnya.


Keenam, disiplin harus ditegakkan. Anda juga harus memastikan disiplin versi Anda sama dengan disiplin versi pengasuh anak atau pasangan Anda. Namun, jangan menjadikan disiplin sebagai teknik mendidik anak yang utama. "Akibatnya orangtua akan mengutamakan hukuman dan kekerasan dalam mendidik anak," kata Frieda.


Ketujuh, lanjut dia, jadilah contoh yang baik bagi anak. Sebab anak adalah peniru ulung dan menjadikan orangtua sebagai polanya. "Jika ingin anak ceria, ya kita harus ceria. Jika tidak ingin anak autis, ya cerewetlah juga sesekali," seloroh Frieda.


Kedelapan, ungkapkan kasih sayang Anda. Jangan anggap enteng dengan menganggap anak sudah pasti tahu dengan sendirinya. Kata-kata, belaian, pelukan, dan ciuman punya arti penting bagi mereka. "Anda juga bisa memberikan surat pendek sekedar 'mama sayang kamu' atau memberi gambar-gambar bunga atau hati dengan pesan 'bunga untuk anak mama'," kata Frieda.


Kesembilan, perhatikan komunikasi dengan anak. Jangan lupa, kontak mata punya pengaruh penting untuk urusan ini. "Kalau Anda teriakkan aturan atau perintah dari ruangan lain, itu tidak akan efektif. Jangan sampai anda memberitahukan sesuatu dengan berteriak atau mengomel," kata Frieda
.

Kesepuluh
, jangan sampai Anda menyelesaikan masalah saat Anda marah. Sebab jika kata-kata menyakitkan Anda lontarkan, sangat mungkin kata-kata itu membekas di benak anak. "Ingat, jadilah contoh bagi anak," pungkasnya.