Pemandangan

Belajar, Berilmu dan Beramal

Seminar

Belajar, Berilmu dan Beramal

Pelatihan

Belajar, Berilmu dan Beramal

Bersama Para Guru

Belajar, Berilmu dan Beramal

Workshop

Belajar, berilmu dan beramal

Rabu, 29 April 2026

Meraih Hayatan Thayyibah

Muhammad Imam Najmudin
Pada hari Ahad, 29 Maret 2026, saya bersama istri berkesempatan menghadiri acara pernikahan salah satu putri dari Bapak Agus Priyatno dan Ibu Parmi yang diselenggarakan di sebuah gedung di Sukoharjo. Suasana acara berlangsung khidmat sekaligus penuh kehangatan, mempertemukan keluarga besar, kerabat, serta para tamu undangan dalam nuansa kebahagiaan.

Di antara rangkaian acara yang berlangsung, terdapat satu sesi yang sangat menarik perhatian saya, yaitu tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Hasan Alim. Dalam tausiyah tersebut, beliau mengangkat pesan yang mendalam dari Al-Qur'an Surah An-Nahl 16:97 yang artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (ḥayatan ṭayyibah).

Beliau menjelaskan bahwa para mufasir memberikan pemaknaan yang luas terhadap konsep ḥayatan ṭayyibah (kehidupan yang baik). Menurut penjelasan yang disampaikan, terdapat sepuluh makna yang dapat dipahami, yang terbagi menjadi lima aspek kehidupan di dunia dan lima kenikmatan di akhirat.

Adapun lima bentuk ḥayatan ṭayyibah di dunia meliputi:

1. Rezeki yang halal, sebagai sumber keberkahan dalam kehidupan
2. Qanā‘ah, yaitu sikap merasa cukup atas apa yang diberikan Allah
3. Kemampuan untuk terus melakukan ketaatan
4. Kebahagiaan atau ketenangan hati dalam menjalani kehidupan
5. Kehidupan yang suci, baik secara lahir maupun batin

Sementara itu, lima bentuk ḥayatan ṭayyibah di akhirat meliputi:

1. Diterimanya amal kebaikan
2. Dimasukkan ke dalam surga
3. Mendapatkan pahala yang baik dan berlipat
4. Memperoleh ridha Allah
5. Mendapatkan ketenangan yang abadi

Penjelasan ini memberikan perspektif yang utuh bahwa kebahagiaan dalam Islam tidak hanya diukur dari aspek duniawi semata, tetapi juga memiliki dimensi ukhrawi yang menjadi tujuan utama kehidupan seorang mukmin.

Dalam penutup tausiyahnya, beliau memberikan pesan khusus kepada kedua mempelai agar mampu mengamalkan lima bentuk ketenangan di dunia tersebut dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dengan demikian, diharapkan kehidupan pernikahan yang dijalani tidak hanya dipenuhi dengan keberkahan dan ketenangan, tetapi juga menjadi jalan menuju kemudahan dalam meraih kebahagiaan di akhirat.

Bagi saya pribadi, tausiyah ini menjadi pengingat yang sangat berharga bahwa inti dari kehidupan yang baik bukan sekadar pada apa yang dimiliki, melainkan pada bagaimana hati mampu menerima, mensyukuri, dan menjalani kehidupan dengan penuh ketaatan kepada Allah. Momentum pernikahan ini pun terasa tidak hanya sebagai perayaan kebahagiaan, tetapi juga sebagai sarana refleksi spiritual bagi para hadirin.


Selasa, 28 April 2026

HALAL BIHALAL YAYASAN AMANAH UMMAH SURAKARTA DENGAN YAYASAN CABANG

 

Muhammad Imam Najmudin 

Ahad, 05 April 2026. Kegiatan Halal Bihalal Yayasan Amanah Ummah dilaksanakan sebagai momentum untuk mempererat ukhuwah Islamiyah serta memperkuat sinergi antar pengurus, guru, dan seluruh elemen yayasan. Acara diawali dengan sesi sambutan dari tuan rumah yang disampaikan oleh Ustadz Noer Rohman. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran para tamu undangan, sekaligus menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dalam penyelenggaraan acara maupun dalam interaksi selama ini. Selain itu, beliau juga memberikan kenang-kenangan berupa hasil usaha Yayasan Cabang Amanah Polokarto sebagai bentuk apresiasi dan penguatan tali silaturahmi.

Selanjutnya, sambutan dari pihak yayasan disampaikan oleh Ustadz Mustaqim. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Beliau juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran beberapa pengurus yayasan karena berbagai keperluan dan kondisi, seperti sakit maupun agenda keluarga. Selain itu, beliau menekankan pentingnya menjaga kekompakan dan menguatkan barisan pengurus, baik di tingkat cabang maupun pusat, sebagai kunci keberlangsungan dan kemajuan yayasan.

Memasuki acara inti, tausiyah disampaikan oleh Ustadz H. Ngadiri. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan tiga pilar utama perjuangan, yaitu pendidikan, dakwah, serta amar ma’ruf nahi mungkar. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi dalam membangun kontribusi nyata yayasan di tengah masyarakat. Selain itu, beliau juga menjelaskan sejarah tradisi Halal Bihalal yang berkembang di Indonesia, yang tidak lepas dari nilai budaya dan peran tokoh-tokoh penting dalam memperkuat persatuan umat.

Lebih lanjut, tausiyah juga menyoroti pentingnya menjaga hubungan antar sesama manusia, dengan mengutip hadits tentang “orang yang bangkrut (muflis)”, yaitu seseorang yang memiliki banyak amal ibadah namun habis karena menyakiti orang lain. Hal ini menjadi pengingat bahwa meminta maaf dan saling menghalalkan merupakan bagian penting dalam menjaga keselamatan di dunia dan akhirat.

Pada sesi akhir, disampaikan beberapa informasi penting terkait kebijakan dan program yayasan, di antaranya mengenai Surat Keputusan (SK) kepegawaian untuk guru kontrak, GTTY, dan GTY. Selain itu, diinformasikan pula rencana kegiatan lanjutan yang melibatkan berbagai unsur yayasan serta penguatan pengelolaan media, khususnya website, sebagai sarana informasi dan pengembangan lembaga.

Secara keseluruhan, kegiatan Halal Bihalal ini berlangsung dengan lancar dan penuh kehangatan, serta menjadi sarana refleksi bersama untuk memperbaiki hubungan, memperkuat komitmen, dan meningkatkan kualitas pengabdian dalam lingkungan Yayasan Amanah Ummah.



Senin, 13 April 2026

Pernikahan: Bukan Sekadar Hari Bahagia


 Muhammad Imam Najmudin 

Sabtu, 28 Maret 2026, saya dan istri menghadiri pernikahan putri dari Bapak Budi Raharjo di Klaten. Kegiatan ini menjadi momen spesial, baik bagi pengantin baru maupun bagi pasangan yang telah lama menjalani bahtera rumah tangga.

Bagi pengantin baru, hari tersebut merupakan titik awal perjalanan penting dalam kehidupan, yakni bersatunya dua insan melalui ikatan akad nikah yang sakral.

Momen ini terasa begitu istimewa karena disaksikan oleh banyak orang, keluarga, kerabat, dan sahabat yang hadir untuk memberikan doa dan dukungan. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk nyata kepedulian, baik secara moril maupun materiil. Semua itu menjadi bekal berharga yang akan dikenang oleh pasangan dalam menapaki perjalanan kehidupan ke depan.

Selain itu, pernikahan juga menandai perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Status yang sebelumnya sendiri kini berubah menjadi berpasangan. Bersamaan dengan itu, hadir pula berbagai tanggung jawab baru yang harus diemban. Pola hidup, cara berpikir, hingga pengambilan keputusan akan mengalami penyesuaian. Inilah fase awal dari sebuah perjalanan panjang yang penuh dinamika, pembelajaran, dan penguatan komitmen.

Bagi pasangan yang telah lama menikah, momen menghadiri pernikahan menjadi refleksi mendalam. Ia mengingatkan kembali pada masa-masa awal ketika janji suci diikrarkan, penuh harap dan doa. Dari sini, tumbuh kesadaran bahwa perjalanan rumah tangga bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang menjaga komitmen, memperbaharui niat, dan terus berupaya berjalan di jalur yang telah disepakati bersama sejak awal.

Lebih dari itu, doa-doa yang terucap dalam setiap pernikahan terutama harapan agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan penuh keberkahan, sejatinya tidak hanya ditujukan kepada pengantin baru. Doa tersebut juga menjadi pengingat bagi setiap pasangan untuk senantiasa merawat hubungan, memperkuat keimanan, serta menjaga keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga.

Dengan demikian, menghadiri sebuah pernikahan bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi juga menjadi ruang perenungan dan penguatan nilai. Baik bagi pengantin baru maupun pasangan lama, momen ini menghadirkan makna yang dalam tentang komitmen, tanggung jawab, dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang penuh keberkahan.(MIN)


Halal bihalal Keluarga Besar Bani Abdul Jamil

 

 
Muhammad Imam Najmudin  

Selasa, 24 Maret 2026 menjadi momen istimewa bagi keluarga besar Abdul Jamil. Pada hari tersebut, seluruh anggota keluarga, mulai dari anak hingga cucu, berkumpul dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.

Acara diawali dengan pembacaan silsilah keluarga Abdul Jamil sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus pengingat akan asal-usul keluarga. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh Kyai H. Nasori Syam. Dalam pesannya, beliau berharap agar agenda silaturahmi seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai sarana mempererat hubungan kekeluargaan.

Menjelang sesi akhir, disampaikan tausiyah oleh Muhammad Imam Najmudin bin Shodikin bin Sueb, putra dari Siti Umayah, yang merupakan anak pertama dari Bapak Abdul Jamil. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga diri dan keluarga, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur'an Surat At-Tahrim ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.” Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga keluarga tidak hanya terbatas pada pasangan, tetapi juga mencakup anak-anak sebagai amanah yang harus dibimbing dengan baik.

Hal tersebut diperkuat dengan hadis yang menyatakan bahwa ketika anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Oleh karena itu, mendidik anak agar menjadi pribadi yang saleh dan salehah merupakan investasi akhirat yang sangat berharga bagi orang tua. Anak yang dididik dengan baik tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menjadi aset spiritual yang terus mengalirkan pahala bagi orang tuanya.

Dengan demikian, kegiatan halal bihalal Bani Abdul Jamil tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai upaya bersama untuk menjaga, membimbing, dan memonitor perkembangan perilaku anak dan cucu agar tetap berada di jalan yang benar. 

Sebagai penutup, acara diisi dengan ramah tamah dan makan bersama yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Hidangan sate yang disajikan turut menambah kehangatan kebersamaan seluruh peserta yang hadir. (MIN)


Minggu, 05 April 2026

Menyambut Reuni 30 Tahun: Mengubah Rasa Canggung Menjadi Semangat Baru

Muhammad Imam Najmudin
 
Tanggal 23 Maret 2026 yang lalu menjadi hari yang sangat dinanti-nanti oleh rekan-rekan alumni SMPN Bulakamba Brebes angkatan 1995. Sebagai bagian di dalamnya, saya merasakan betul betapa berartinya momen ini. Walaupun kehadiran mungkin tidak mencapai 50%, setelah 30 tahun lamanya tidak bertemu, kerinduan itu tetap terasa kuat terutama bagi mereka yang selama ini merantau di luar kota.

Bertemu kembali dengan teman SMP menghadirkan perasaan yang unik. Secara fisik, cara berpikir, dan latar belakang kehidupan, kita semua tentu telah banyak berubah dibandingkan tiga dekade lalu. Reuni bisa menjadi sumber energi baru, tetapi di sisi lain juga dapat memunculkan rasa canggung, bahkan menurunkan kepercayaan diri bagi sebagian orang.

Perbedaan pencapaian ekonomi kerap membuat seseorang merasa kurang percaya diri atau enggan hadir. Padahal, reuni sejatinya adalah ruang untuk saling menguatkan. Di sinilah kita berbagi pengalaman, bertukar cerita, dan membuka peluang untuk saling membantu atau dalam bahasa sederhana kita dulu, saling menjaga “urusan dapur” masing-masing.

Namun demikian, ada sisi lain yang perlu disikapi dengan bijak. Reuni juga bisa menghidupkan kembali kenangan lama, termasuk kisah-kisah yang pernah terjalin. Fenomena “CLBK” (cinta lama bersemi kembali) sering menjadi cerita yang beredar. Bahkan, ada kisah nyata tentang rumah tangga yang terguncang setelah pertemuan kembali dengan mantan semasa sekolah. Ini menjadi pengingat bahwa kedewasaan dan komitmen tetap harus dijaga dalam setiap kebersamaan.

Di sisi positifnya, ketika anak-anak kita mulai memasuki fase dewasa, reuni justru dapat menjadi jembatan kebaikan: membuka peluang saling besanan, bertukar informasi tentang sekolah, pekerjaan, hingga peluang beasiswa. Lingkaran pertemanan lama, jika dikelola dengan niat baik, bisa menjadi jaringan sosial yang saling menguatkan lintas generasi.

Pada akhirnya, reuni bukan sekadar pertemuan nostalgia, melainkan cermin perjalanan hidup. Ia menguji sejauh mana kita mampu merawat persaudaraan tanpa terjebak dalam perbandingan, menjaga kenangan tanpa mengorbankan masa depan, serta memperluas silaturahmi tanpa melupakan batas-batas yang seharusnya dijaga. Dari sanalah, reuni menemukan maknanya: bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi meneguhkan arah hidup ke depan. (MIN)
.