Muhammad Imam Najmudin
Pada hari Ahad, 29 Maret 2026, saya bersama istri berkesempatan menghadiri acara pernikahan salah satu putri dari Bapak Agus Priyatno dan Ibu Parmi yang diselenggarakan di sebuah gedung di Sukoharjo. Suasana acara berlangsung khidmat sekaligus penuh kehangatan, mempertemukan keluarga besar, kerabat, serta para tamu undangan dalam nuansa kebahagiaan.
Di antara rangkaian acara yang berlangsung, terdapat satu sesi yang sangat menarik perhatian saya, yaitu tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Hasan Alim. Dalam tausiyah tersebut, beliau mengangkat pesan yang mendalam dari Al-Qur'an Surah An-Nahl 16:97 yang artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (ḥayatan ṭayyibah).
Beliau menjelaskan bahwa para mufasir memberikan pemaknaan yang luas terhadap konsep ḥayatan ṭayyibah (kehidupan yang baik). Menurut penjelasan yang disampaikan, terdapat sepuluh makna yang dapat dipahami, yang terbagi menjadi lima aspek kehidupan di dunia dan lima kenikmatan di akhirat.
Adapun lima bentuk ḥayatan ṭayyibah di dunia meliputi:
1. Rezeki yang halal, sebagai sumber keberkahan dalam kehidupan
2. Qanā‘ah, yaitu sikap merasa cukup atas apa yang diberikan Allah
3. Kemampuan untuk terus melakukan ketaatan
4. Kebahagiaan atau ketenangan hati dalam menjalani kehidupan
5. Kehidupan yang suci, baik secara lahir maupun batin
Sementara itu, lima bentuk ḥayatan ṭayyibah di akhirat meliputi:
1. Diterimanya amal kebaikan
2. Dimasukkan ke dalam surga
3. Mendapatkan pahala yang baik dan berlipat
4. Memperoleh ridha Allah
5. Mendapatkan ketenangan yang abadi
Penjelasan ini memberikan perspektif yang utuh bahwa kebahagiaan dalam Islam tidak hanya diukur dari aspek duniawi semata, tetapi juga memiliki dimensi ukhrawi yang menjadi tujuan utama kehidupan seorang mukmin.
Dalam penutup tausiyahnya, beliau memberikan pesan khusus kepada kedua mempelai agar mampu mengamalkan lima bentuk ketenangan di dunia tersebut dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dengan demikian, diharapkan kehidupan pernikahan yang dijalani tidak hanya dipenuhi dengan keberkahan dan ketenangan, tetapi juga menjadi jalan menuju kemudahan dalam meraih kebahagiaan di akhirat.
Bagi saya pribadi, tausiyah ini menjadi pengingat yang sangat berharga bahwa inti dari kehidupan yang baik bukan sekadar pada apa yang dimiliki, melainkan pada bagaimana hati mampu menerima, mensyukuri, dan menjalani kehidupan dengan penuh ketaatan kepada Allah. Momentum pernikahan ini pun terasa tidak hanya sebagai perayaan kebahagiaan, tetapi juga sebagai sarana refleksi spiritual bagi para hadirin.






0 comments:
Posting Komentar